INFRAK MIOKARD AKUT
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Penyakit jantung di Indonesia masih
merupakan penyakit nomor satu yang mendorong angka kematian cukup tinggi, hal
ini disebabkan karena masyarakat kurang paham mengenai bahaya dari penyakit
jantung tersebut. Gaya hidup mereka yang tidak sehat yang kadang memicu
timbulnya berbagai penyakit kronis yang membahayakan. Ketika era globalisasi
menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara berkembang dapat segera
meniru kebiasaan negara barat yang dianggap cermin pola hidup modern. Sejumlah
perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food) yang mengandung
kadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja
berlebihan, kurang berolah raga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia
terutama di perkotaan. Padahal kesemua perilaku tersebut dapat merupakan
faktor-faktor penyebab penyakit jantung dan stroke.
Selama 70 tahun dalam kehidupan
rata-rata manusia, jantung memompakan kurag lebih 4,75 liter darah tiap menit,
284,25 liter (75 galon) perjam, 57 barrel perhari, dan 1,5 juta barrel
sepanjang hidup. Meskipun kerja ini diselesaikan oleh organ jantung tampak
proporsinya melebihi dari ukurannya, untuk kebanyakan orang fungsi jantung
secara normal bekeja sepanjang hidup. Kerja jantung menggerakkan darah,
substansi vital, ke seluruh tubuh, megirimkan oksigen dan nutrisi ke sel-sel
dan membuang sisa-sisa. Tanpa adanya kerja ini, sel-sel akan mati begitu juga
dengan otot-otot jantung. Suplai darah
ke otot-otot jantung yang tidak adekuat akan mengakibatkan iskemik bahkan
terjadi kematian pada otot jantung (Hudak & Gallo, 1997).
Jika penurunan aliran darah dikembalikan
sampai batas normal, peritiwa iskemik akan berakhir. Jika iskemik terus menerus
sementara kebutuhan oksigen miokard terus berlanjut, jaringan akan menjadi
nekrotik karena kebutuhan energy akan melebihi suplai energy darah. Ini adalah
keadaan infark miokard. Jaringan miokard nekrotik tidak dapat hidup kembali.
Area disekitar jaringan mati adalah zona jaringan iskemik yang mengalami
sedikit kerusakan masih hidup pada aliran darah yang terganggu.
B.
Tujuan
1.
Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan stase keperawatan
gawat darurat, saya mampu memahami dan mampu memberikan asuhan keperawatan pada
klien dengan akut miokard infark (AMI) dengan kegawatan medis.
2.
Tujuan Khusus
a.
Mampu memahami definisi akut
miokard infark
b.
Mampu memahami etiologi dari
akut miokard infark
c.
Mampu melaksanakan asuhan
keperawatan gawat darurat pada klien dengan akut miokard infark dengan
kegawatan medis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
PENGERTIAN
Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat
suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang (Brunner &
Sudarth, 2002).
Miokard infark adalah kematian jaringan otot miokard akibat adanya
sumbata pada arteri koronariabaik kecil dan fokal atau besar. Pembuluh darah
yang sering terkena adalah koronaria kiri, percabangan anterior kiridan arteri
sirkumfleks (Raynuddin, 2007).
Sedangkan menurut Suyono (1999), Infark miocard akut
adalah nekrosis miocard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu.
B.
ETIOLOGI
Menurut Kasuari (2002), ada beberapa
factor penyebab akut miokard infark, yaitu:
1.
faktor penyebab :
a.
Suplai oksigen ke miocard
berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :
-
Faktor pembuluh darah :
Ø Aterosklerosis.
Ø Spasme
Ø Arteritis
-
Faktor sirkulasi :
Ø Hipotensi
Ø Stenosos aurta
Ø insufisiensi
-
Faktor darah :
Ø Anemia
Ø Hipoksemia
Ø Polisitemia
b.
Curah jantung yang meningkat :
-
Aktifitas berlebihan
-
Emosi
-
Makan terlalu banyak
-
hypertiroidisme
c.
Kebutuhan oksigen miocard
meningkat pada :
-
Kerusakan miocard
-
Hypertropimiocard
-
Hypertensi diastolic
2.
Faktor predisposisi :
a.
faktor resiko biologis yang
tidak dapat diubah :
-
usia lebih dari 40 tahun
-
jenis kelamin : insiden pada
pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause
-
hereditas
-
Ras : lebih tinggi insiden pada
kulit hitam.
b.
Faktor resiko yang dapat diubah
:
-
Mayor :
Ø hiperlipidemia
Ø hipertensi
Ø Merokok
Ø Diabetes
Ø Obesitas
Ø Diet tinggi lemak jenuh, kalori
-
Minor:
Ø Inaktifitas fisik
Ø Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif).
Ø Stress psikologis berlebihan.
C.
TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala infark miokard ( TRIAS ) adalah :
1. Nyeri :
a.
Nyeri dada yang terjadi secara
mendadak dan terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas region sternal bawah
dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama.
b.
Keparahan nyeri dapat meningkat
secaara menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi.
c.
Nyeri tersebut sangat sakit,
seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju
lengan (biasanya lengan kiri).
d.
Nyeri mulai secara spontan
(tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional), menetap selama
beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat atau
nitrogliserin (NTG).
e.
Nyeri dapat menjalar ke arah
rahang dan leher.
f.
Nyeri sering disertai dengan
sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pening atau kepala terasa
melayang dan mual muntah.
g.
Pasien dengan diabetes melitus
tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati yang menyertai diabetes
dapat mengganggu neuroreseptor (mengumpulkan pengalaman nyeri).
2.
Laborat
Pemeriksaan Enzim jantung :
a.
CPK-MB/CPK
Isoenzim yang
ditemukan pada otot jantung meningkat antara 4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam, kembali normal dalam 36-48 jam.
b.
LDH/HBDH
Meningkat dalam
12-24 jam dam memakan waktu lama
untuk kembali normal
c.
AST/SGOT
Meningkat ( kurang
nyata/khusus ) terjadi dalam 6-12 jam, memuncak dalam 24 jam, kembali normal
dalam 3 atau 4 hari
3.
EKG
Perubahan EKG yang terjadi pada fase awal adanya
gelombang T tinggi dan simetris. Setelah
ini terdapat elevasi segmen ST.Perubahan yang terjadi kemudian ialah adanya
gelombang Q/QS yang menandakan adanya nekrosis.
Skor nyeri menurut White :
0
= tidak
mengalami nyeri
1 = nyeri pada satu sisi tanpa menggangu aktifitas
2 = nyeri lebih pada satu
tempat dan mengakibatkan terganggunya aktifitas, mislnya kesulitan bangun dari
tempat tidur, sulit menekuk kepala dan lainnya.
D. PATHWAYS
D. PATHWAYS
E.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
EKG
Untuk mengetahui fungsi jantung : T. Inverted, ST depresi,
ST-Elevasi, Q. patologis
2.
Enzim Jantung.
CPKMB, LDH, AST
3.
Elektrolit.
Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan
kontraktilitas, missal hipokalemi, hiperkalemi
4.
Sel darah putih
Leukosit ( 10.000 – 20.000 ) biasanya tampak pada hari
ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi
5.
Kecepatan sedimentasi
Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI , menunjukkan
inflamasi.
6.
Kimia
Mungkin normal, tergantung abnormalitas fungsi atau
perfusi organ akut atau kronis
7.
GDA
Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru
akut atau kronis.
8.
Kolesterol atau Trigliserida
serum
Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab
AMI.
9.
Foto dada
Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung
diduga GJK atau aneurisma ventrikuler.
10.
Ekokardiogram
Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi, gerakan
katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup.
11.
Pemeriksaan pencitraan nuklir
a.
Talium : mengevaluasi aliran
darah miocardia dan status sel miocardia missal lokasi atau luasnya IMA
b.
Technetium : terkumpul dalam
sel iskemi di sekitar area nekrotik
12.
Pencitraan darah jantung (MUGA)
Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum,
gerakan dinding regional dan fraksi ejeksi (aliran darah)
13.
Angiografi koroner
Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner.
Biasanya dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji
fungsi ventrikel kiri (fraksi ejeksi). Prosedur tidak selalu dilakukan pad fase
AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau emergensi.
14.
Digital subtraksion angiografi
(PSA)
Teknik yang digunakan untuk menggambarkan
15.
Nuklear Magnetic Resonance
(NMR)
Memungkinkan visualisasi aliran darah, serambi jantung
atau katup ventrikel, lesivaskuler, pembentukan plak, area nekrosis atau infark
dan bekuan darah.
16.
Tes stress olah raga
Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktifitas atau sering
dilakukan sehubungan dengan pencitraan talium pada fase penyembuhan.
F.
PENATALAKSANAAN
1.
Rawat ICCU, puasa 8 jam
2.
Tirah baring, posisi semi
fowler.
3.
Berikan Mona
4.
Monitor EKG
5.
Infus D5% 10 – 12 tetes/ menit
6.
Oksigen 2 – 4 lt/menit
7.
Analgesik : morphin 5 mg atau
petidin 25 – 50 mg
8.
Obat sedatif : diazepam 2 – 5
mg
9.
Bowel care : laksadin
10.
Antikoagulan : heparin tiap 4 –
6 jam /infus
11.
Diet rendah kalori dan mudah
dicerna
12.
Psikoterapi untuk mengurangi
cemas
G.
PENGKAJIAN PRIMER
1.
Airways
-
Sumbatan atau penumpukan secret
-
Wheezing atau krekles
2.
Breathing
-
Sesak dengan aktifitas ringan
atau istirahat
-
RR lebih dari 24 kali/menit,
irama ireguler dangkal
-
Ronchi, krekles
-
Ekspansi dada tidak penuh
-
Penggunaan otot bantu nafas
3.
Circulation
-
Nadi lemah , tidak teratur
-
Takikardi
-
TD meningkat / menurun
-
Edema
-
Gelisah
-
Akral dingin
-
Kulit pucat, sianosis
-
Output urine menurun
H. PENGKAJIAN SEKUNDER.
1.
Aktifitas
Gejala :
-
Kelemahan
-
Kelelahan
-
Tidak dapat tidur
-
Pola hidup menetap
-
Jadwal olah raga tidak teratur
Tanda :
-
Takikardi
-
Dispnea pada istirahat atau
aaktifitas
2.
Sirkulasi
Gejala : riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah tekanan
darah, diabetes mellitus.
Tanda :
-
Tekanan darah
Dapat normal /
naik / turun
Perubahan
postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri
-
Nadi
Dapat normal , penuh atau tidak
kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat, tidak
teratus (disritmia)
-
Bunyi jantung
Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan
gagal jantung atau penurunan kontraktilits atau komplain ventrikel
-
Murmur
Bila ada menunjukkan gagal katup atau
disfungsi otot jantung
-
Friksi ; dicurigai Perikarditis
-
Irama jantung dapat teratur
atau tidak teratur
-
Edema
Distensi vena juguler, edema dependent , perifer, edema
umum,krekles mungkin ada dengan gagal jantung atau ventrikel
-
Warna
Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa
atau bibir
3.
Integritas ego
Gejala : menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati, perasaan
ajal sudah dekat, marah pada penyakit atau perawatan, khawatir tentang keuangan
, kerja , keluarga
Tanda : menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah,
perilaku menyerang, focus pada diri sendiri, koma nyeri
4.
Eliminasi
Tanda : normal,
bunyi usus menurun.
5.
Makanan atau cairan
Gejala : mual,
anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar
Tanda : penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah,
perubahan berat badan
6.
Hygiene
Gejala atau tanda : lesulitan melakukan tugas perawatan
7.
Neurosensori
Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun
(duduk atau istrahat )
Tanda : perubahan mental, kelemahan
8.
Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala :
-
Nyeri dada yang timbulnya
mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan aktifitas ), tidak hilang dengan
istirahat atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan viseral)
-
Lokasi :
Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial,
dapat menyebar ke tangan, ranhang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti
epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.
-
Kualitas :
“Crushing ”, menyempit, berat, menetap, tertekan,
seperti dapat dilihat.
-
Intensitas :
Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri
paling buruk yang pernah dialami.
-
Catatan : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi, diabetes
mellitus , hipertensi, lansia
-
9.
Pernafasan:
Gejala :
-
dispnea tanpa atau dengan kerja
-
dispnea nocturnal
-
batuk dengan atau tanpa
produksi sputum
-
riwayat merokok, penyakit
pernafasan kronis.
Tanda :
-
peningkatan frekuensi
pernafasan
-
nafas sesak / kuat
-
pucat, sianosis
-
bunyi nafas ( bersih, krekles,
mengi ), sputum
10.
Interkasi social
Gejala :
-
Stress
-
Kesulitan koping dengan
stressor yang ada missal : penyakit, perawatan di RS
Tanda :
-
Kesulitan istirahat dengan
tenang
-
Respon terlalu emosi ( marah
terus-menerus, takut )
-
Menarik diri
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1.
Nyeri berhubungan dengan
iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri ditandai dengan :
Ø nyeri dada dengan / tanpa penyebaran
Ø wajah meringis
Ø gelisah
Ø delirium
Ø perubahan nadi, tekanan darah.
Tujuan :
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
selama di RS
Kriteria
Hasil:
Ø Nyeri dada berkurang misalnya dari skala 3 ke 2, atau dari 2 ke 1
Ø ekpresi wajah rileks / tenang,
tak tegang
Ø tidak gelisah
Ø nadi 60-100 x / menit,
Ø TD 120/ 80 mmHg
Intervensi :
Ø Observasi karakteristik, lokasi, waktu, dan perjalanan rasa nyeri dada tersebut.
Ø Anjurkan pada klien
menghentikan aktifitas selama ada serangan dan istirahat.
Ø Bantu klien melakukan tehnik
relaksasi, mis nafas dalam, perilaku distraksi, visualisasi, atau bimbingan
imajinasi.
Ø Pertahankan Olsigenasi dengan
bikanul contohnya ( 2-4 L/ menit )
Ø Monitor tanda-tanda vital ( Nadi & tekanan darah ) tiap dua jam.
Ø Kolaborasi dengan tim
kesehatan dalam pemberian analgetik.
2.
Resiko penurunan curah jantung
berhubungan dengan perubahan factor-faktor listrik, penurunan karakteristik
miokard
Tujuan :
Curah jantung membaik / stabil setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama di RS
Kriteria Hasil :
Ø Tidak ada edema
Ø Tidak ada disritmia
Ø Haluaran urin normal
Ø TTV dalam batas normal
Intervensi :
Ø Pertahankan tirah baring selama fase akut
Ø Kaji dan laporkan adanya tanda – tanda penurunan COP, TD
Ø Monitor haluaran urin
Ø Kaji dan pantau TTV tiap jam
Ø Kaji dan pantau EKG tiap hari
Ø Berikan oksigen sesuai kebutuhan
Ø Auskultasi pernafasan dan jantung tiap jam sesuai indikasi
Ø Pertahankan cairan parenteral dan obat-obatan sesuai advis
Ø Berikan makanan sesuai diitnya
Ø Hindari valsava manuver, mengejan ( gunakan laxan )
3.
Gangguan perfusi jaringan
berhubungan dengan , iskemik, kerusakan otot jantung, penyempitan / penyumbatan
pembuluh darah arteri koronaria ditandai dengan :
Ø Daerah perifer dingin
Ø EKG elevasi segmen ST & Q patologis pada lead tertentu
Ø RR lebih dari 24 x/ menit
Ø Kapiler refill Lebih dari 3 detik
Ø Nyeri dada
Ø Gambaran foto torak terdpat pembesaran jantung & kongestif paru
( tidak selalu )
Ø HR lebih dari 100 x/menit, TD > 120/80AGD dengan : pa O2
< 80 mmHg, pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg
Ø Nadi lebih dari 100 x/ menit
Ø Terjadi peningkatan enzim jantung yaitu CK, AST, LDL/HDL
Tujuan :
Gangguan perfusi
jaringan berkurang / tidak meluas selama dilakukan tindakan perawatan di
RS.
Kriteria Hasil:
Ø Daerah perifer hangat
Ø tak sianosis
Ø gambaran EKG tak menunjukan perluasan infark
Ø RR 16-24 x/ menit
Ø tak terdapat clubbing finger
Ø kapiler refill 3-5 detik
Ø nadi 60-100x / menit
Ø TD 120/80 mmHg
Intervensi :
Ø Monitor Frekuensi dan irama jantung
Ø Observasi perubahan status
mental
Ø Observasi warna dan suhu
kulit / membran mukosa
Ø Ukur haluaran urin dan catat berat jenisnya
Ø Kolaborasi : Berikan cairan IV l sesuai indikasi
Ø Pantau Pemeriksaan diagnostik / dan laboratorium mis EKG, elektrolit
, GDA( Pa O2, Pa CO2 dan saturasi O2 ).
Dan Pemberian oksigen
4.
Resiko kelebihan volume cairan
ekstravaskuler berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal, peningkatan natrium
/ retensi air , peningkatan tekanan hidrostatik, penurunan protein plasma.
Tujuan :
Keseimbangan volume cairan dapat dipertahankan selama dilakukan tindakan keperawatan selama
di RS
Kriteria Hasil :
Ø tekanan darah dalam batas normal
Ø tak ada distensi vena perifer/
vena dan edema dependen
Ø paru bersih
Ø berat badan ideal ( BB
idealTB –100 ± 10 %)
Intervensi :
Ø Ukur masukan / haluaran, catat penurunan , pengeluaran, sifat
konsentrasi, hitung keseimbangan cairan
Ø Observasi adanya oedema dependen
Ø Timbang BB tiap hari
Ø Pertahankan masukan total
caiaran 2000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler
Ø Kolaborasi : pemberian diet rendah natrium, berikan diuetik.
5.
Kerusakan pertukaran gas
berhubungan dengan gangguan aliran darah ke alveoli atau kegagalan utama paru,
perubahan membran alveolar- kapiler (
atelektasis , kolaps jalan nafas/ alveolar
edema paru/efusi, sekresi berlebihan / perdarahan aktif ) ditandai
dengan :
Ø Dispnea berat
Ø Gelisah
Ø Sianosis
Ø perubahan GDA
Ø hipoksemia
Tujuan :
Oksigenasi dengan GDA dalam rentang normal (pa O2
< 80 mmHg, pa Co2 > 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg )
setelah dilakukan tindakan keperawtan selama di RS.
Kriteria hasil :
Ø Tidak sesak nafas
Ø tidak gelisah
Ø GDA dalam batas Normal ( pa O2 < 80 mmHg, pa Co2
> 45 mmHg dan Saturasi < 80 mmHg )
Intervensi :
Ø Catat frekuensi & kedalaman pernafasan, penggunaan otot Bantu
pernafasan
Ø Auskultasi paru untuk
mengetahui penurunan / tidak adanya
bunyi nafas dan adanya bunyi
tambahan misal krakles, ronki dll.
Ø Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas
misalnya , batuk, penghisapan lendir
dll.
Ø Tinggikan kepala / tempat tidur sesuai kebutuhan / toleransi pasien
Ø Kaji toleransi aktifitas misalnya
keluhan kelemahan/ kelelahan selama kerja atau tanda vital berubah.
6.
Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen miocard dan kebutuhan, adanya iskemik/ nekrotik jaringan
miocard ditandai dengan gangguan frekuensi jantung, tekanan darah dalam aktifitas,
terjadinya disritmia, kelemahan umum
Tujuan :
Terjadi peningkatan toleransi pada klien setelah dilaksanakan tindakan keperawatan selama di RS
Kriteria
Hasil :
Ø klien berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuan klien
Ø frekuensi jantung 60-100 x/
menit
Ø TD 120-80 mmHg
Intervensi :
Ø Catat frekuensi jantung,
irama, dan perubahan TD selama dan
sesudah aktifitas
Ø Tingkatkan istirahat ( di tempat tidur )
Ø Batasi aktifitas pada dasar nyeri
dan berikan aktifitas sensori yang tidak berat.
Ø Jelaskan pola peningkatan
bertahap dari tingkat aktifitas, contoh bengun dari kursi bila tidak ada nyeri, ambulasi dan istirahat selam 1
jam setelah mkan.
Ø Kaji ulang tanda gangguan
yang menunjukan tidak toleran terhadap
aktifitas atau memerlukan pelaporan pada
dokter.
7.
Cemas berhubungan dengan
ancaman aktual terhadap integritas biologis
Tujuan :
cemas hilang / berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama di RS
Kriteria Hasil :
Ø Klien tampak rileks
Ø Klien dapat beristirahat
Ø TTV dalam batas normal
Intervensi :
Ø Kaji tanda dan respon verbal serta non verbal terhadap ansietas
Ø Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Ø Ajarkan tehnik relaksasi
Ø Minimalkan rangsang yang membuat stress
Ø Diskusikan dan orientasikan klien dengan lingkungan dan peralatan
Ø Berikan sentuhan pada klien dan ajak kllien berbincang-bincang
dengan suasana tenang
Ø Berikan support mental
Ø Kolaborasi pemberian sedatif sesuai indikasi
8.
Kurang pengetahuan berhubungan
dengan kurang informasi tentang fungsi
jantung / implikasi penyakit
jantung dan status kesehatan yang akan datang , kebutuhan perubahan pola hidup ditandai dengan
pernyataan masalah, kesalahan konsep, pertanyaan, terjadinya kompliksi yang dapat dicegah
Tujuan :
Pengetahuan klien tentang kondisi
penyakitnya menguat setelah
diberi pendidikan kesehatan selama di RS
Kriteria Hasil :
Ø Menyatakan pemahaman tentang penyakit jantung , rencana
pengobatan, tujuan pengobatan & efek
samping / reaksi merugikan
Ø
Menyebutkan gangguan yang
memerlukan perhatian cepat.
Intervensi :
Ø Berikan informasi dalam bentuk belajar yang berfariasi, contoh buku,
program audio/ visual, Tanya jawab dll.
Ø Beri penjelasan factor resiko, diet ( Rendah lemak dan rendah garam
) dan aktifitas yang berlebihan,
Ø Peringatan untuk menghindari paktifitas manuver valsava
Ø Latih pasien sehubungan dengan aktifitas yang bertahap contoh :
jalan, kerja, rekreasi aktifitas seksual.
DAFTAR PUSTAKA
Carolyn M.
Hudak. 1997. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume
II. Alih Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC
Doengoes,
M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. 1999. Nursing
care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Alih
bahasa: Kariasa, I.M. Jakarta: EGC; (Buku asli diterbitkan tahun 1993)
Kasuari.
2002. Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan
Pendekatan Patofisiology. Magelang: Poltekes Semarang PSIK Magelang
Lynda Juall
Carpenito. 2001. Handbook Of Nursing Diagnosis. Edisi 8. Jakarta : EGC
Mansjoer
Arif. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta : Media
Aesculapius
Price, S.A.
& Wilson, L.M. 1994. Pathophysiology:
Clinical concept of disease
processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC
Smeltzer,
S.C. & Bare, B.G. 2000. Brunner and
Suddarth’s textbook of medical – surgical nursing. 8th Edition.
Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC